Beranda / Berita / Peringati 21 Tahun Tsunami Aceh dan Musibah Banjir, PTI Al-Hilal Sigli gelar Doa bersama

Peringati 21 Tahun Tsunami Aceh dan Musibah Banjir, PTI Al-Hilal Sigli gelar Doa bersama

Sigli — Peringatan 21 tahun tragedi tsunami Aceh digelar dengan penuh khidmat dan nuansa reflektif. Acara ini menjadi momentum penting untuk mengenang duka mendalam sekaligus meneguhkan semangat bangkit dan harapan bagi generasi masa kini dan mendatang.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan penceramah nasional, Ustadz Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si., yang menyampaikan tausiyah sarat makna tentang arti kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Dalam pidatonya, beliau menekankan bahwa kesabaran bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan besar yang mampu mengantarkan manusia pada keteguhan iman dan kematangan jiwa, apa pun kondisi yang dihadapi.

“Kesabaran adalah sikap menerima takdir Allah dengan penuh keikhlasan, sembari terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap Ustadz Ilham di hadapan para peserta.

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Ilham juga membagikan pengalaman hidupnya saat menempuh pendidikan di Jerman. Ia menceritakan bagaimana tantangan hidup di negeri orang, perbedaan budaya, serta dinamika akademik yang keras justru mengajarkannya nilai disiplin, ketekunan, dan kesabaran. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa setiap kesulitan selalu menyimpan hikmah dan peluang untuk bertumbuh.

Sementara itu, Ketua Yayasan PTI Al-Hilal Sigli dalam sambutannya menegaskan bahwa tragedi tsunami Aceh merupakan luka sejarah yang mendalam, namun sekaligus menjadi bukti ketangguhan masyarakat Aceh. Beliau menyampaikan bahwa meskipun negeri ini pernah dilanda musibah besar, semangat kebersamaan, keimanan, dan solidaritas telah membuat Aceh mampu bangkit dan menata masa depan dengan lebih baik.

“Musibah bukan akhir dari segalanya. Dari duka, kita belajar arti persatuan, dari kehilangan kita menemukan kekuatan untuk kembali bangkit,” ujarnya.

Peringatan 21 tahun tsunami Aceh ini tidak hanya menjadi ajang mengenang para korban, tetapi juga ruang refleksi spiritual dan sosial, untuk menanamkan nilai kesabaran, keteguhan, serta optimisme dalam membangun masa depan yang lebih kuat dan bermartabat.